Monday, April 22, 2013

Cara Konfigurasi Dan Setting Nat Menggunakan Mikrotik

Bagi teman-teman yang mungkin saat ini membutuhkan atau ingin mengetahui bagaimana cara konfigurasi NAT (Network Address Translation ) pada mikrotik adalah sebagai berikut :

1.Buka aplikasi winbox karena mikrotik membutuhkan winbox dan klik pada menu IP lalu klik pada firewall.

2.Setelah klik pada firewall lalu pilih nat.lalu klik pada tanda +


3.Klik tab general selanjutnya pada chain dibuat dstnat isikan dst address dengan ip public isikan protokol.dan dst port

 
 
 4.Setelah setting pada tab general selanjutnya setting pada action isikan pada action dstnat isikan to addres ke ip local dan to port masukan port yang di inginkan.

Selanjutnya close program winbox dan sekarang kamu bisa coba akses ip publik kamu yang telah di riderect  contoh pada web browser 112.33.33.33:590.
Selamat mencoba




By Admin Java




Thursday, February 28, 2013

Update Antivirus Avast Secara Offline

Sedikit pengalaman admin java, karena awalnya ingin update antivirus avast 1 pc saja memerlukan waktu yang cukup lama, bagaimana harus update 40 pc dengan waktu yang relatif singkat ? akhirnya semua dirubah dan di update secara offline karna banyak sekali fungsinya salah satunya menghemat bandwith :D.
Disini admin ingin sedikit share tentang cara update manualnya
1. Cek terlebih dahulu version pada avast antivirus yang di install pada komputer kamu.

2. Setelah kamu melihat versi avast kamu lalu kamu buka pada web browser dengan alamat   http://www.avast.com/download  lalu klik download pada vesi yang kamu punya .

3. Tunggu download sampai dengan selesai, besar programnya  kurang lebih 76 MB.




4. Setelah selesai download lalu jalankan program updater  tersebut.


 Selesai, sekarang kamu memiliki anti virus Avast yang terupdate tanpa harus mengkoneksikan komputer/notebook ke internet program tersebut berlaku untuk banyak pc /notebook.

Semoga bermanfaat

by : admin

Monday, January 21, 2013

Teknologi Suara Akan Gantikan Teknologi Sentuh


Saat ini teknologi sentuh yang banyak diadopsi pada perangkat mobile sedang mengalami masa keemasaannya. Namun dengan pesatnya perkembangan teknologi, hal ini diperkirakan akan segera tergantikan dengan teknologi lain yang lebih baru dan lebih canggih.

Mooly Eden, Intel Senior Vice President, mengatakan bahwa nantinya teknologi pengenalan suara (voice recognition) akan menggantikan teknologi layar sentuh. Teknologi pengenalan suara akan melakukan apa yang diperintahkan dengan lebih cepat dan praktis. Contohnya dengan mengaktifkan fungsi keyboard tanpa perlu menyentuhnya. Hal ini akan membuat beberapa perangkat lawas seperti mouse dan keyboard menjadi tidak diperlukan lagi keberadaannya.

Eden mengatakan hal tersebut dalam rangka menjelaskan pada media bahwa Intel saat ini sedang bekerja dalam mengembangkan perangkat berbasis teknologi pengenalan suara. Dan Eden yakin bahwa perangkat ini akan mengambil alih teknologi sentuh yang sekarang sedang booming, sekitar tiga atau lima tahun lagi.

"Suara adalah sarana komunikasi terbaik antara manusia. Kami akhirnya memiliki kekuatan yang cukup untuk melakukan seperti apa yang terdapat pada film cerita fiksi ilmiah," kata Eden.

Pada gelaran CES awal bulan lalu, Intel sendiri telah melakukan beberapa demonstrasi menggunakan perangkat yang mampu bekerja dengan melacak pergerakan mata dan juga pergerakan tangan dalam mengambil obyek virtual.

Dengan perangkat berteknologi pengenalan suara, Eden mengharapkan bahwa bekerja dengan komputer akan lebih menyenangkan dan bisa berinteraksi layaknya manusia.

"Saya menginginkan Anda bekerja dengan komputer seperti layaknya Anda bekerja dengan saya. Dan saya ingin pengguna mengatakan bahwa saya mencintai komputer saya," tambah Eden.

Layak ditunggu perangkat apa yang sekiranya bakal dihadirkan Intel nantinya.


 Infokomputer.com

Monday, December 10, 2012

Richard Stallman Kecam Ubuntu


Richard Stallman melalui tulisan di blog miliknya pada 7 Desember 2012, mengungkapkan bahwa distro Ubuntu telah menjadi salah satu software yang serupa dengan proprietary software, seperti Microsoft, karena dinilai telah melanggar prinsip-prinsip Free Software. 
 
Stallman menilai bahwa Ubuntu telah mengandung surveillance code, yaitu kode program yang diduga selalu memantau apa yang pemakai cari, baik terhadap sumber di komputer lokal ataupun di internet. Secara khusus hal tersebut terkait dengan fasilitas Ubuntu Dash (Home Lens) yang memungkinkan setiap kata kunci pencarian pada fasilitas tersebut akan dikirimkan ke server milik Canonical, perusahaan pembuat Ubuntu.
Hal lain yang menjadi sorotan Stallman adalah Ubuntu (12.10) telah menggunakan informasi pencarian dari para pemakai Ubuntu untuk menampilkan iklan (ads) kepada pemakai untuk membeli berbagai barang dari Amazon. Dengan turut menampilkan iklan tersebut, Ubuntu telah dianggap berkontribusi terhadap produk proprietary software, seperti Amazon. Stallman juga menyerukan agar tidak merekomendasikan distro Ubuntu sebagai sebuah distro turunan GNU/Linux.

Sebagai pencetus yayasan Free Software, Stallman menggaris bawahi bahwa semua software yang mengikuti prinsip free software harus melindungi pemakai dari malware atau spyware. Untuk dapat melindungi pemakai, maka setiap software Free Software tidak boleh mengandung surveillance code dan atau digital handcuffs (DRM or Digital Restrictions Management) untuk membatasi pemakai.
Apa yang telah diungkapkan oleh Richard Stallman tersebut, berdasar tulisan Mark Shuttleworth (CEO Canonical), tanggal 23 September 2012 disebut sebagai sebuah FUD (Fear, Uncertainty, Doubt). Sepertinya bos perusahaan pembuat Ubuntu tersebut jauh-jauh hari telah mempersiapkan penjelasan untuk berbagai pertanyaan FUD.

Menanggapi tulisan Richard Stallman tersebut, Jono Bacon, sebagai orang yang bertanggung jawab terhadap jalannya manajemen komunitas di Canonical, juga turut berpendapat bahwa pendapat Richard Stallman hanyalah merupakan suatu kekuatiran yang berlebihan. Dalam tulisan di blog pribadinya, Jono menyatakan bahwa apa yang telah dicapai Ubuntu (12.10) merupakan sebuah upaya untuk memberikan pengalaman baru dalam mencari apapun dari satu tempat, yaitu Dash. Ubuntu tetap memperhatikan keamanan dan melindungi data-data pribadi dari tiap pemakainya.

Richard Stallman memegang prinsip bahwa semua software yang mengikuti prinsip Free Software tidak boleh mengandung bagian atau komponen yang non-free. Bagaimana tanggapan resmi dari Canonical terkait dengan penilaian Stallman? Sampai saat berita ini diturunkan, belum ada tanggapan secara resmi dari pihak Canonical

 Infokomputer.com

Sunday, November 18, 2012

Aplikasi WiFox Tingkatkan Kinerja Wi-Fi Hingga 700%



Jaringan Wi-Fi untuk koneksi Internet gratisan mulai banyak tersedia di tempat-tempat umum, bahkan di dalam bus.

Fasilitas demikian memang sangat bermanfaat bagi pengguna perangkat bergerak. Tetapi yang paling mengesalkan adalah bila akses ke Internet mulai melambat karena semakin banyak pengguna di jaringan tersebut.

Untungnya ada sekelompok peneliti dari North Carolina State University (NCSU) yang mengembangkan software untuk mengatasi masalah di atas. Disebut dengan WiFox, software ini dapat diinstal di jaringan dan akan mengatasi masalah melambatnya kecepatan koneksi pada lingkungan Wi-Fi yang sedang dipakai banyak orang. Peningkatan throughput bisa mencapai 700 persen.

Penurunan kinerja Wi-Fi ketika mulai banyak yang menggunakannya disebabkan oleh koneksi antara komputer pengguna dengan access point hanya menggunakan satu channel. Satu channel tersebut digunakan dua arah, yaitu untuk pengiriman data dari komputer ke access point dan sebaliknya. Ini ibarat jalan raya satu jalur yang digunakan untuk dua arah mobil, yang rawan terjadi kemacetan.

Bila sejumlah besar pengguna mengirim permintaan data,  channel tersebut akan penuh dan acces point akan menghadapi hambatan untuk mengirim data kembali ke pengguna. Makin banyak pengguna makin “ramai” lalu-lintas data pada channel yang digunakan bersama tersebut, dan makin turun kinerja jaringan.
Software WiFox mengatasi masalah di atas. Software ini memonitor lalu-lintas data pada channel Wi-Fi dan memberikan prioritas kepada access point untuk mengirim data bila terjadi backlog data. Prioritas yang diberikan tergantung pada ukuran backlog – semakin besar semakin tinggi prioritasnya. Beraksi seperti polisi lalu-lintas, WiFox menjaga lalu-lintas data agar mengalir lancar di kedua arah.

Sekelompok peneliti dari NCSU telah menguji WiFox di jaringan Wi-Fi yang dapat menangani 45 pengguna di lab mereka. Hasilnya, semakin banyak pengguna yang memakai jaringan, semakin tinggi througput datanya. Peningkatannya mulai dari 400 persen dengan 25 pengguna dan sampai 700 persen bila 45 pengguna memanfaatkan jaringan tersebut. 

Dari hasil pengujian tersebut, tim peneliti berkesimpulan bahwa respon terhadap permintaan pengguna rata-rata empat kali lebih cepat daripada di jaringan Wi-Fi yang tidak menggunakan software tersebut.
Menariknya lagi, WiFox dapat dipaket sebagai software update yang dapat diinstal di jaringan Wi-Fi yang sudah ada. “WiFox dapat dipasang tanpa membongkar sistem,” kata Arpit Gupta, seorang mahasiswa PhD di computer science NCSU, seperti dikutip oleh siaran pers NCSU. 

Gupta merupakan lead author untuk paper yang menjelaskan cara kerja WiFox. Paper tersebut akan dipresentasikan pada ACM CoNEXT 2012, konferensi yang diselenggarakan di Nice, Perancis, pada 10-13 Desember 2012 mendatang.



Saturday, October 27, 2012

Kendali Pesawat “Wulung” Lewat Frekuensi

Teknologi telekomunikasi di dunia sudah menguasai banyak segi kehidupan manusia, baik teknologi sederhana yang sudah digunakan sejak awal abad lalu, hingga ke teknologi telko yang canggih saat ini. Sadar atau tidak sadar, manusia sudah banyak menggantungkan diri pada dukungan atau bantuan teknologi telekomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh paling mudah, orang lebih baik memilih ketinggalan dompet dibanding ketinggalan ponsel. Dengan ponsel orang bisa berbuat lebih banyak dibanding sekadar memiliki uang di dompetnya, karena kini ponsel bahkan bisa menempatkan diri sebagai dompet digital berjalan.


Belum lama ini BPPT, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, berhasil menguji coba pesawat terbang tanpa awak (PTTA) yang pengoperasiannya sangat mengandalkan bantuan teknologi telekomunikasi melalui pengendalian jarak jauh (remote control). Pesawat yang dinamai Wulung (elang) itu bukan yang pertama dibuat oleh BPPT karena merupakan hasil penyempurnaan sehingga sudah bisa dianggap sejajar dengan PTTA yang dibuat dan dioperasikan oleh banyak negara maju.

Israel, misalnya, mengoperasikan PTTA untuk mengintai kegiatan militan Palestina, mengirim informasinya ke kantor pusat yang kemudian digunakan untuk melakukan tindakan, misalnya mengebom target pilihan utama. PTTA memang lebih diarahkan untuk kegiatan mata-mata khususnya dengan sasaran negara tetangga, meskipun banyak juga yang digunakan untuk kegiatan pertanian. Misalnya untuk melakukan penyemprotan hama atau membangun hujan buatan dengan menebar garam di awan.

PTTA bukan suatu yang aneh, sebab contohnya banyak dilakukan oleh berbagai kalangan, dari mulai anak-anak hingga dewasa, misalnya mainan mobil-mobil dengan kendali jarak jauh, juga pesawat model. Hanya saja teknologi telekomunikasi yang digunakan masih kelas kacangan yang memanfaatkan frekuensi rendah, sekitar 28 MHz, sehingga radius kendalinya pun sempit, tidak sampai 500 meter.

PTTA kelas canggih tidak menggunakan teknologi remote control seperti mobil mainan tadi, karena kebutuhan yang lebih luas yang menghendaki jarak kendali yang lebih jauh, sampai ratusan kilometer. Kendali demikian namanya autonomous, yang sekaligus juga mampu mengirimkan gambar-gambar yang diambil oleh kamera yang ada di PTTA tadi, sehingga petugas pusat kendali sekaligus juga berfungsi sebagai pilot pesawat.

Tergantung kebutuhannya, PTTA bisa berbentuk pesawat kecil yang berukuran panjang tak sampai 5 meter, hingga ke pesawat yang panjang dan bentang sayapnya nyaris sama dengan pesawat ringan sekelas Cessna 172. Beda dengan Cessna yang bisa dimuati empat orang tadi, PTTA terbang tanpa orang dan pesawat diisi berbagai peralatan survai, baik untuk kepentingan damai maupun untuk kegiatan mata-mata.

Namun demikian PTTA jarang dibuat dalam ukuran besar karena tidak efisien untuk kegiatan mata-mata sebab mudah dideteksi kehadirannya, baik dari suara mesin maupun oleh pelacakan radar. Lawan yang dimata-matai pun, jika kemudian bisa mendeteksi frekuensi yang digunakan, PTTA bisa dijatuhkan atau dihancurkan.

Sama halnya dengan dua pesawat model yang menggunakan frekuensi sama, salah satu bisa jatuh dengan sendirinya. Ini karena perintah untuk naik bagi pesawat yang satu bisa ditangkap oleh pesawat model yang lain sebagai perintah untuk menukik.

Untuk kegiatan bagi kemaslahatan masyarakat, PTTA bisa digunakan untuk memantau misalnya kegiatan gunung berapi, bencana alam, juga untuk pemetaan. Makin canggih isi di dalam pesawat tanpa awak tadi, makin tinggi frekuensi yang dibutuhkan karena semua dikendalikan dengan data. Karenanya bentuk ruang kendali PTTA itu pun mirip kokpit pesawat dengan berbagai meter-meter instrumen.



sumber 



Friday, October 26, 2012

Open Stack Red Hat Bantu Kelola Komputasi Awan

Solusi komputasi awan semakin membumi. Beberapa vendor ternama tampak tampil dengan tawaran komputasi awannya. Namun demikian, diperlukan cara jitu untuk mengelola komputasi awan agar terasa manfaatnya.

Red Hat pun telah diakui sebagai kontributor ketiga untuk OpenStack secara keseluruhan pada OpenStack Summit bulan April 2012 lalu. Pihaknya pun menawarkan distribusi enterprise berbasis OpenStack. Menurut Red Hat, OpenStack sebagai kerangka kerja open source dapat digunakan untuk membangun awan IaaS pribadi dan publik guna melengkapi portofolio solusi komputasi awan open source Red Hat. 

Proyek utama perangkat lunak ini adalah menyediakan layanan komputasi, penyimpanan dan pengelolaan jaringan yang dilakukan melalui layanan identitas dan dashboard. Baik itu komputasi awan pribadi, publik, maupun Infrastructure-as-a-Service (IaaS) hybrid

Proyek OpenStack mengalami perkembangan yang cepat menjadi solusi open source. Pasalnya proyek ini diakui mampu memberikan kinerja, feature, dan fungsionalitas bagi organisasi untuk mengelola komputasi awan pribadi dan publik mereka. Rilis komersial OpenStack Red Hat pun diharapkan mampu memberikan umpan balik dan pengujian yang dibutuhkan untuk merampungkan rilis preview ini. 

Nantinya, distribusi OpenStack Red Hat bakal memperluas dan melengkapi portofolio komputasi awan hybrid perusahaan lebih dalam lagi. Saat ini portofolio Red Hat mencakup Enterprise Linux, Enterprise Virtualization, CloudForms, Storage dan OpenShift Platform-as-a-Service (PaaS). 

“Upaya productization kami saat ini difokuskan pada penguatan solusi integrasi Red Hat siap-Enterprise Linux dan OpenStack untuk memberikan solusi untuk enterprise yang memungkinkan enterprise di dunia untuk mewujudkan infrastruktur komputasi awan,” tutur Brian Stevens (CTO and vice president, Worldwide Engineering, Red Hat).

Stevens menambahkan, pihaknya mengundang para pecinta OpenStack dan perusahaan yang berminat untuk mengunduh preview Red Hat serta memberikan umpan balik demi membantu mereka dalam menyediakan platform stabil enterprise OpenStack bagi industri. 

Distribusi OpenStack versi preview yang tanpa dukungan untuk publik berbasis Red Hat Enterprise Linux 6 bisa diunduh di www.redhat.com/tryopenstack. Diharapkan rilis dan dukungan lengkapnya sudah tersedia di tahun 2013.