Teknologi telekomunikasi di dunia sudah menguasai banyak segi
kehidupan manusia, baik teknologi sederhana yang sudah digunakan sejak
awal abad lalu, hingga ke teknologi telko yang canggih saat ini. Sadar
atau tidak sadar, manusia sudah banyak menggantungkan diri pada dukungan
atau bantuan teknologi telekomunikasi dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh paling mudah, orang lebih baik memilih ketinggalan dompet
dibanding ketinggalan ponsel. Dengan ponsel orang bisa berbuat lebih
banyak dibanding sekadar memiliki uang di dompetnya, karena kini ponsel
bahkan bisa menempatkan diri sebagai dompet digital berjalan.
Belum lama ini BPPT, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi,
berhasil menguji coba pesawat terbang tanpa awak (PTTA) yang
pengoperasiannya sangat mengandalkan bantuan teknologi telekomunikasi
melalui pengendalian jarak jauh (remote control). Pesawat yang dinamai
Wulung (elang) itu bukan yang pertama dibuat oleh BPPT karena merupakan
hasil penyempurnaan sehingga sudah bisa dianggap sejajar dengan PTTA
yang dibuat dan dioperasikan oleh banyak negara maju.
Israel, misalnya, mengoperasikan PTTA untuk mengintai kegiatan
militan Palestina, mengirim informasinya ke kantor pusat yang kemudian
digunakan untuk melakukan tindakan, misalnya mengebom target pilihan
utama. PTTA memang lebih diarahkan untuk kegiatan mata-mata khususnya
dengan sasaran negara tetangga, meskipun banyak juga yang digunakan
untuk kegiatan pertanian. Misalnya untuk melakukan penyemprotan hama
atau membangun hujan buatan dengan menebar garam di awan.
PTTA bukan suatu yang aneh, sebab contohnya banyak dilakukan oleh
berbagai kalangan, dari mulai anak-anak hingga dewasa, misalnya mainan
mobil-mobil dengan kendali jarak jauh, juga pesawat model. Hanya saja
teknologi telekomunikasi yang digunakan masih kelas kacangan yang
memanfaatkan frekuensi rendah, sekitar 28 MHz, sehingga radius
kendalinya pun sempit, tidak sampai 500 meter.
PTTA kelas canggih tidak menggunakan teknologi remote control seperti
mobil mainan tadi, karena kebutuhan yang lebih luas yang menghendaki
jarak kendali yang lebih jauh, sampai ratusan kilometer. Kendali
demikian namanya autonomous, yang sekaligus juga mampu mengirimkan
gambar-gambar yang diambil oleh kamera yang ada di PTTA tadi, sehingga
petugas pusat kendali sekaligus juga berfungsi sebagai pilot pesawat.
Tergantung kebutuhannya, PTTA bisa berbentuk pesawat kecil yang
berukuran panjang tak sampai 5 meter, hingga ke pesawat yang panjang dan
bentang sayapnya nyaris sama dengan pesawat ringan sekelas Cessna 172.
Beda dengan Cessna yang bisa dimuati empat orang tadi, PTTA terbang
tanpa orang dan pesawat diisi berbagai peralatan survai, baik untuk
kepentingan damai maupun untuk kegiatan mata-mata.
Namun demikian PTTA jarang dibuat dalam ukuran besar karena tidak
efisien untuk kegiatan mata-mata sebab mudah dideteksi kehadirannya,
baik dari suara mesin maupun oleh pelacakan radar. Lawan yang
dimata-matai pun, jika kemudian bisa mendeteksi frekuensi yang
digunakan, PTTA bisa dijatuhkan atau dihancurkan.
Sama halnya dengan dua pesawat model yang menggunakan frekuensi sama,
salah satu bisa jatuh dengan sendirinya. Ini karena perintah untuk naik
bagi pesawat yang satu bisa ditangkap oleh pesawat model yang lain
sebagai perintah untuk menukik.
Untuk kegiatan bagi kemaslahatan masyarakat, PTTA bisa digunakan
untuk memantau misalnya kegiatan gunung berapi, bencana alam, juga untuk
pemetaan. Makin canggih isi di dalam pesawat tanpa awak tadi, makin
tinggi frekuensi yang dibutuhkan karena semua dikendalikan dengan data.
Karenanya bentuk ruang kendali PTTA itu pun mirip kokpit pesawat dengan
berbagai meter-meter instrumen.
sumber